Archive for the ‘Rehat’ Category

JIWA-JIWA SHOHWAH

bantulahpalestinDuhai desir angin, kata apakah yang dapat kutuliskan kini,
Tatkala kudengar di sana saudaraku menggelepar tak berdaya
Wahai derak awan, kalimat apakah yang mampu kurangkai kini
Tatkala kusaksikan satu lagi jasad pembela agamaku rubuh bersimbah darah,
Dunia telah jadi saksi keteguhan parade pejuang menebar benih-benih kebangkitan Islam

Mengajarkan dunia tentang hakiat perjuangan,
Bahwa di sana, di balik semangat kebangkitan,
Ada yang harus dikorbankan,
Ada yang harus dijual,
Nyawa adalah kosakata abadi bagi mereka yang benar berjuang,
Harganya sebanding dengan rumah–rumah megah penuh hiasan mutiara
Harganya sebanding dengan surga dan wajah Sang Pencipta

Duhai masa, perkenankanlah kusemat satu lagi gelar
Untuk mereka yang gugur di jalan kebenaran

Merekalah jiwa-jiwa shohwah
Yang melanjutkan generasi-generasi pejuang dari abad-abad penuh cobaan
Yang peluhnya menjadi buah-buahan segar untuk kami yang berjuang setelahnya
Yang darahnya menjadi pupuk pemberi kami tenaga untuk selalu istiqamah

Advertisements

TEKAD

Menyadari keangkuhan dan kesombongan
Yang mengangkangi dan menindas dunia Islam
Ada yang harus disiapkan
Keikhlasan diri, Kebulatan tekad, Kekuatan jasad,
Menyikapi kehancuran yang melanda dunia Islam
Di tengah kelesuan, kelemahan, dan tidur panjan umat Islam
Langkah yang dilakukan harus penuh kesungguhan
Bukan semata bicara panjang lebar,
tanpa kerja yang nyata,
Atau semata mengungkapkan kebobrokan
Namun dengan penuh ragu dan kecenderungan
Adalah memantapkan diri,
Bahwa kesabaran adalah cambuk,
untuk menegakkan keadilan
Merenungi langkah yang harus dilakukan
untuk masa depan dunia Islam,
Ada yang harus dilakukan, ada yang harus ditegaskan
Kemantapan diri – kekuatan tekad –
Kemurnian asas – dan kejelasan tujuan
Saudaraku,
Semoga setiap tarikan nafas, denyut jantung,
getar sukma, dan jerit jiwa kita,
Selalu kita persembahkan untuk Islam
Semoga Allah senantiasa mengistiqamahkan dan
memberikan taufiq kepada kita semua
Semoga jalinan ukhuwwah ini menjadi sesuatu yang indah
yang tak terlupakan dan kekal sampai di jannah-Nya kelak
Aamin..

Ummu Nidhal, Khansa Palestina

Teman2 tau al-khansa??? Beliau adalah shahabiyah rasulullah saw yang sangat terkenal keteguhan serta kesabarannya di zaman Rasulullah saw karena seluruh anaknya gugur syahid bersama Rasulullah saw di medan jihad. Pun dengan Ummu Nidhal yang nama aslinya adalah Maryam Muhammad Moheisin, kelahiran Gaza 24 Desember 1949. Tiga orang anaknya gugur syahid dalam peperangan mengusir Zionis laknatullah dari bumi Palestina. Tiga orang anaknya: Nidhal Farhat, Muhammad Fathi Farhat, dan Rawad Farhat gugur dalam tugas jihad melawan penjajah Israel. Sementara itu, salah seorang anaknya, Wisam Farhat, saat ini masih mendekam di penjara Zionis Israel.

Saya terus bergetar saat membaca kisah beliau di salah satu majalah kesayangan saya. Bagaimana tidak?!!! Di saat orang tua-orang tua seusia beliau menikmati masa tuanya bersama anak cucunya, beliau dengan tegas mendorong putranya berkompetisi melawan tentara Israel dan bahkan menasehatinya untuk tidak mundur dari garis depan, sampai menemui Allah dalamkondisi sebagai syuhada. Subhanallah…

Sejak anaknya, Muhammad Fathi Farhat menginjak usia enam tahun beliau telah berkata padanya,”Aku ingin engkau berperang melawan Israel dengan senjata, tidak dengan batu”. Bahkan saat ditanya,”Adakah sedikit keraguan, kebimbangan, dalam hati beliau saat mengarakan anak-anaknya ke medan juang mengusir penjajah?” Dengan ungkapan yang tegas dan singkat beliau menjawab,”Bagaimana mungkin saya melarang kebaikan dari anak saya?? Saya sudah tahu sejak semula bahwa ia harus menjadi anak yang percaya penuh kepada saya. Saya sampaikan padanya, agar tidak ada informasi rahasia tentang aksi jihadnya kepada saya, agar saya bisa memotivasi dan memberinya semangat. Di bulan Ramadhan, ia menyampaikan kabar gembira pada saya bahwa ia telah bergabung bersama brigade Al Qassam, sayap pejuang Hammas, dan tengah bersiap menyongsong syahid dalam sebuah aksi serangan”

Menjelang perpisahannya dengan Farhat, beliau berkata,”Saya tidak dapat membendung air mata. Jangan percaya dengan air mata ibu ini, Nak. Ini adalah air mata bangga menjelang pertemuanmu dengan bidadari.” Seraya memeluk anaknya untuk yang terakhir kalinya.

Berkaca pada kisah Ummu Nidhal di atas, saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri,”Siapkah saya menjadi seorang ibu yang mendorong anak-anaknya berangkat ke medan jihad seperti Ummu NidhaL?? Mungkin masih jauh rasanya untuk membahas mengenai hal itu mengingat saya masih sangat muda(heu..). Tapi, saya merasa malu pada diri saya sendiri…di saat ibu-ibu di Palestina bercita-cita sangat mulia untuk memiliki anak-anak yang gugur di medan jihad, saya tidak pernah sekalipun terfikir seperti itu meskipun hanya lintasan pikiran. Saya hanya berfikir kelak saya ingin memiliki anak-anak yang shaleh, yang mencintai Islam, yang ikut memperjuangkan Islam, tapi tidak pernah sampai ke angan-angan saya bahwa saya ingin memiliki anak-anak syuhada.. Insya Allah ini akan menjadi cita-cita besar saya kelak.. Aamin…^^