Archive for the ‘Pelajaran Hidup’ Category

Dan Semua itu Adalah Ketentuan Allah..

Shock therapy in midnight.

dreeet…dreeet… Hape Z610i yang sejak tadi saya simpan di samping laptop tiba-tiba bergetar..

1 New Message..

Baca SMS… terhenyak dan langsung terbangun dari posisi malas di depan laptop.

“Gin..aku kecelakaan.. Aku gpp..
mobilnya kbalik..
bsk kl g msk tlg kabari tutor 10” (redaksi kata diubah sedikit untuk menyamarkan kondisi..)

Innalillahi… panik untuk beberapa saat. Berpikir apa yang harus dilakukan setelah membaca SMS tadi.
SMS itu datang dari salah seorang saudara saya di FK. Saudara yang selama ini berjuang sama-sama.. Satu visi.. Satu ikatan..

….

tapa pikir panjang lagi saya tekan nomornya dari HP. Tersambung. Sudah bisa diduga..suara tangisan langsung terdengar dari sebelah sana. Saya lebih banyak diam. Berusaha untuk menenangkan.. “Kamu ga papa kan?” buat saya, saya sangat bersyukur karena masih bisa mendengar tangisan saudara saya itu. Alhamdulillah, puji syukur padaMu ya Rabb..masih memberikan keselamatan pada saudara saya… Tak terbayangkan perasaan yang muncul jika kondisinya berbeda.

Sedari tadi mata saya berkaca-kaca.. Ya Rabb…berikan perlindungan, ketenangan, dan kesabaran pada saudara saya… Aamin..

***

Hikmah in the night…

Betapa dekatnya diri kita dengan maut.. Apa yang saudara saya alami jelas suatu kejadian yang mendekatkannya pada maut..
Saya pun, dalam kondisi yang aman saat ini, nyaman berada di atas kasur yang hangat, bukan berarti saya terbebas dari kejaran maut. Ya, maut terus mengejar saya, mengejar kita. Tanpa disadari, setiap detik, menit, dan jam berlalu itu semakin mendekatkan kita pada maut.

Teringatkan kembali..

Semoga dengan kejadian ini bisa menambah self awareness saya dan teman2 yg membaca tentang maut. Bahwa ia bisa datang kapan saja, dengan cara yang tidak pernah kita duga..
Dan pastinya, saat maut itu datang,, alangkah beruntungnya orang2 yang sedang berada di atas keimanannya yang tertinggi..

Ya Rabb..kelak, matikan kami dalam keadaan husnul khatimah…aamin..

****

..Ya Rabb, jagalah saudaraku ini, limpahkan kesabaran yang tak terbatas baginya, karuiakan ketenangan & keikhlasan untuknya dalam menerima ketentuanMu ini…

Advertisements

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

…Ngobrak-ngabrik email2 lama..menemukan message dari seorang teman..
Bagus pisan.. Semoga bisa mengingatkan kita semua.. 🙂
…Mom, I Love u..and I really Miss you..favorite-mommy-moments-bridgetz81

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa
kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang
mendalam, tetapi kisah
ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini,
makna sesungguhnya
dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan
terbebas dari
penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong
mekarnya sekuntum
bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir
sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan
untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering
memberikan porsi nasinya
untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu
berkata : “Makanlah
nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG
PERTAMA

Continue reading

Hari ini..

dsc001501Lagi-lagi diingatkan untuk banyak bersyukur..
Hari ini melakukan perjalanan..
Ga terlalu jauh, tapi ga bisa dibilang dekat juga sih..
Jalan..
Jalan..
Jalan..
Lama-lama mulai jenuh
Mulai menyalahkan keadaan
“duh, salah dreskod nih, kenapa harus pake sepatu inih??? Kan jadi blablabla..”
“sebenernya ada jalan yang lebih cepet ga sih?”
“Aduh, kaki saya mulai pegel, tapi limit waktu makin mengejar..”
“Matahari makin naik nih, saya harusnya tadi bawa topi..”
(tapi ini semua Cuma diucap dalam hati…)
Dan seterusnya-dan seterusnya…
Makin lama berjalan..
Mulai bertemu pemandangan yang subhanallah indah (apa sebenernya udah ada dari tadi ya?? Apa karena saya sibuk menyalahkan keadaan sampai hal seindah ini ga terasa??)
Sawah-ladang terhampar luas di depan mata saya..
Pegunungan berdiri tegar di ruwetnya Jatinangor..
Lama-lama perasaan-perasaan tadi hilang satu per satu
Berganti ribuan tasbih yang tak terbendung
Maha Suci Allah yang telah menciptakan semua yang ada di langit dan di bumi dengan segaa kesempurnaanNya..

Merasa sangat malu
Pada Allah
Pada diri sendiri
Pada teman-teman yang saat itu berjalan bersama saya (andaikata mereka dengar isi hati saya..)
Astaghfirullah..
Menyadari lagi kalau ternyata yang harus disyukuri lebih banyak daripada yang harus disabari..
Alhamdulillah masih diingatkan…

Sehat Itu Sangat Nikmat..

Teori banget sih, Gin??! Bener ini mah..

Pernah denger ga kata-kata: “Kita ga akan menyadari sesuatu itu sangat berharaga sampai kita kehilangannya.” Ini nih, yang sedang saya rasakan sekarang. Selama ini, saya termasuk orang yang jarang sekali sakit. Waktu masih SMA, kehadiran saya 100%, ga pernah izin karena sakit. Sekarang pun, saat kuliah, setelah tiga tahun di FK Unpad, ini kali pertama saya tidak masuk kuliah. Kenapa??? Karena saya sakit. Sudah dua hari saya diare. Sehari bisa bolak-balik kamar mandi sampai 10x. Lemes… Wajar banget, karena tiap kali saya makan makan, tiap itu pula langsung keluar lagi dalam bentuk kotoran yang cair banget (maaf ya,, rada jorok topiknya). Berat badan saya sampai turun 2 kilo dalam waktu dua hari itu (orang-orang: “Sumpeh Gin?? Kasih tau gue caranya dooonggg…”). Boro-boro seneng turun berat badan. Wong efeknya saya jadi lemes, mual, lidah saya pait, ga nafsu makan, bahkan saya kalau disodorkan Ayam Bakar Padang sekarang pasti saya tolak dengan sepenuh hati (padahal itu makanan terenak di bumi Jatinangor,,ceuk saya mah..)

Huhuhuhuuu.. kenapa saya selama ini ga menyadari hal itu? Bahwa sehat itu berharga. Makanya saya sering cuek dalam hal makan (bisa dalam satu hari baru makan sore-sore, atau makan kelewat banyak sampai susah nafas, makan kelewat pedes sampai orang-orang bilang “itu ayam pake sambel apa sambel pake ayam Gin??”), kalau hujan suka cuek aja ga pake payung dengan alasan mengenang masa kecil dulu, kalau tidur seenaknya (kadang jam dua malem saya baru tidur..aaaapa aja saya kerjain,,), kadang ketiduran di lantai kosan yang aduhai subhanallah dinginnya di malam hari, sering minum kopi, jarang makan buah, vitamin apalagi,, parahhh… Padahal ngakunya anak kedokteran yang ngerti paling engga gimana cara menjaga kesehatan diri sendiri. Padahal kalau anak kosan ada yang sakit suka sok-sok nasehatin buat jaga pola makan dan waktu tidur…payah!

be-healthy-logoFlash back ke hari Senin, kayanya salah saya di situ deh. Sore itu, saya beli ayam bakar padang dengan sambel ijo porsi dobel(buat buka shaum) plus malemnya makan keripik pedes, minum kopi dan begadang. Alhasil, malam itu juga, saya mulai mules-mules akhirnya diare. Masuk angin juga mungkin, makanya saya mual-mual. Soalnya, paginya, waktu mo buka jendela, ternyata nako jendela kamar saya terbuka lebar. Sukses deh, penyakitnya tambah seneng bermain-main di badan saya. Dua kali minum dia*et ga mempan,, padahal udah minum dosis yang paling tinggi.

Yaudah deh, hari ini saya putuskan ga pergi ngampus (daripada di kampus keinginan-untuk-ke-WC-nya menjadi-jadi dan saya ga nyaman juga waktu tutorial, mending sekarang pergi ke dokter and take a rest).

Pulang dari dokter, dikasih 4 macem obat..banyak bener ya??! Obatnya…

1. Arcapec àkata apotekernya sih buat ngobatin diarenya. Zat aktifnya attapulgite. Mekanisme kerjanya gimana ya?? Saya belum iseng buka buku farmako..kapan2 deh, hehe

2. Famrepim (yang ternyata zat aktifnya tuh trimetroprim+sulfametoksazol) àantibiotik nihh.. berarti saya kena infeksi enterobakteri (mungkin salmonella atau shigella??),,mmm, jangan2 makanan yg saya makan terkontaminasi..

3. Pharolit alias oralità ini sih biar ga kekurangan cairan&ion gara2 diare saya yang sangat cair dan sering itu

4. Spasmecoà buat mules-mulesnya..

….dilanjutkan besok paginya…

Malamnya, karena kondisi makin memburuk karena udah muncul muntah2, saya putuskan untuk PULANG SADJA!! Takut terjadi hal2 yg gawat malemnya (lebai banget ya…) dan malah nyusahin orang2 kosan (padahal mereka lagi sibuk ngurusin PRAMA dsb). Alhamdulillah, ada akhwat sekampus yang bawa mobil juga mau pulang ke Bandung. Dengan relanya dia mengantar saya sampai daerah RSHS (padahal rumahnya di Soreang). Subhanallah, itulah ukhuwah^^ (Syukran, ukh!)

Mulai buntu…

Yah, pokonya mah jaga kesehatan tuh penting. Bener deh, sakit itu ga enak banget rasanya. Baru dikasih diare aja udah kelimpungan, apalagi penyakit2 yang berat..ih, na’udzubillah…

Kemaren saya malu banget waktu pergi ke klinik pajajaran.. Dokternya sampe bilang: “Emang mahasiswa makannya apaan aja sih? Kok pada diare gini?” Dan waktu beliau dokter bertanya “Kuliah dimana?” Asli, saya malu banget buat bilang dua huruf itu “FK, dok”. Whaaa..jangan sampai terulang lagi.. Say no to spicy food for this time…

Tadinya, saya pengen memasukkan sedikit info yang berkaitan dengan diare. Tapi, berhubung textbook saya tinggal semua di Jatinangor, jadi kapan-kapan aja yah, kalo sempet dan inget..hehe

Last note from me.. Jaga kesehatan. Karena menjaga kesehatan itu salah satu wujud rasa syukur kita sama Yang Empunya tubuh kita ini. Jika kita pandai bersyukur, niscaya Allah akan menambah nikmatNya pada kita. Tapii, kalau kita kufur nikmat alias ga bersyukur, tunggu saja azab Allah pasti datang (ya kaya saya inii…).

…maka nikmatMu yang manakah lagi yang kan kudustai???…

.:Wallahu ‘alam bishshawab:.

Urgensi insya Allah..

Baca untuk ke berapa kalinya buku “Membangun Ruh Baru” karangan Musyaffa Abdurrahim.. Teringatkan lagi tentang pentingnya berkata “insya Allah”. Namanya manusia, mungkin kita sering mengalami, bahwa kita boleh saja merencanakan segala sesuatu, memikirkan berbagai hal, menganggap suatu hal sangat sempurna hingga kita berfikir kalau kita sudah mengetahui akhir dari sesuatu, tapi kita sering terlupa bahwa ada Sang Empunya Langit dan Bumi yang berkehendak atas segala sesuatu. Maka tak jarang, kita sesumbar berucap “ya, saya pasti datang”, “oke, Senin saya bereskan pekerjaannya”, atau “sip lah, semuanya gampang diatur…”.

Sebenarnya, seorang Muslim harus memiliki sifat optimis (tafa’ul atau raja’), tapi kita sering terlupa bahwa sifat optimis tadi kudu diimbangi dengan rasa ‘adamul amni min makrillah (tidak merasa aman dari makar Allah) dan juga khauf (takut). Betapa Allah sudah menciptakan dunia ini dengan segala kesempurnaannya, menciptakan segala sesuatu berpasangan, tentunya agar semuanya seimbang.

Ada satu kisah yang menggambarkan betapa pentingnya berkata “insya Allah”. Suatu hari, Rasulullah saw.ditanyai oleh kafir Quraisy tentang tiga hal:

1. Bagaimana kisah ashabul kahfi?

2. Bagaimana kisah Dzul Qarnain?

3. Apa yang dimaksud dengan ruh?

Mendapati pertanyaan tersebut, Rasulullah saw.menjawab, “Besok akan saya ceritakan dan saya jawab”. Ada satu hal penting yang terlewat, beliau lupa mengucapkan insya Allah. Akibatnya, wahyu yang biasanya turun kepada beliau setiap mendapati masalah, tertunda selama 15 hari. Sedangkan kaum Quraisy terus menagih-nagih janji beliau tentang hal yang mereka pertanyakan itu.

Rasulullah saw.sangat sedih kejadian itu. Barulah setelah lima belas hari, Allah menurunkan jawaban atas pertanyaan itu melalui surat Al-KAhfi: 23-24.

“Janganlah kamu sekali-kali mengatakan, ‘Sesungguhnya saya akan melakukan hal ini besok,’ kecuali dengan mengatakan insya Allah.”(QS. Al-Kahfi: 23-24)

Mungkin kita bertanya-tanya, “Bukankah Rasulullah saw.telah diampuni dosanya baik yang telah lalu dan yang akan datang? Lalu, mengapa Allah menghukum Rasulullah saw. sampai sebegitu beratnya??” di buku dijelaskan, bahwa itu semua tujuannya semata-mata 1). Agar bisa menjadi pelajaran untuk kita, manusia, terutama yang hidup jauuh dari zaman ketika Rasulullah masih hidup. Rasulullah saw. Yang paling Allah cintai aja ditegur dengan sangat keras, apalagi kita, manusia biasa yang mungkin keimanan kita masih sangat jauh dari standar. Alasan yang ke 2). Karena Rasulullah saw. Adalah orang yang mempunyai kedekatan dengan Allah. Jadi, di buku disebutkan, ada hal-hal tertentu yang untuk orang-orang abrar (orang yang baik-baik) dinilai sebagai hasanat (kebaikan), namun bagi orang-orang berkelas muqarrab (yang dekat dengan Allah dan menjadi kekasihNya) akan dinilai sebagai suatu sayyiat (keburukan).

Masih ada kisah lain yang ditampilkan di buku. Yang lainnya adalah kisah nabi Sulaiman as, nabi Musa as, dan nabi Ismail as. Semuanya menggambarkan dengan cukup jelas, betapa mengucapkan “insya Allah” merupakan hal yang dinilai oleh Allah sangat urgen. Kita lihat saja tadi, betapa manusia sekelas Rasulullah saw. saja ditegur Allah dengan sangat keras hanya karena lupa mengucap insya Allah.

Semoga teringatkan kembali…dan mulai membentuk kebiasaan mengucap insya Allah…

DIA Menguji Saya (Lagi)

Ga asing rasanya mendengar kata “ujian”. Bagi seorang pelajar SMA, ujian jadi satu hal yang harus dilewati untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Bagi seorang mahasiswa, ujian menjadi alat ukur kesiapan dirinya untuk berbuat kelak sesuai bidang yang ia pilih. Bagi seoarang pekerja, ia menjadi tahap yang harus dilaluinya untuk naik pangkat. Bagi sepasang suami istri, ujian menjadi pembuktian kekompakan mereka dan pengokoh rumah tangganya.

Ya, semua orang punya ujian yang harus dilaluinya masing-masing.

Ujian.

Apa sih hikmah di balik ujian?

Apakah Allah memberi kita ujian hanya untuk menyulitkan diri kita? Atau hanya agar ada sesuatu yang bisa kita cari penyelesaian dan jalan keluarnya?

Tidak jendral.

Ujian bukan sekedar sesuatu untuk diselesaikan.

Ujian menjadi tolak ukur Sang Pencipta untuk meninggikan derajat kita di hadapannya. Ujian dibuat agar kita menguasai satu permasalahan. Ujian dibuat agar kita berpikir lebih luas tentang hidup dan hakikat keberadaan kita di bumi.

Maka bertanyalah diri saya,

“Mengapa saya diuji dengan hal yang sama berulang-ulang???”

Hari ini pun. Ia menghadapkan diri saya pada satu masalah yang sama yang membuat diri saya ingin terus melarikan diri. Ya, saya belum bisa menguasai masalah ini. Saya belum menjadi seorang “ahli” dalam mencari solusi permasalahan ini. Untuk itu, IA menguji saya.

Terus gimana dong, biar saya bisa menyelesaikan masalah ini?? Karena tiap kali saya merasa sudah akan mengakhiri mengakhiri masalah ini, saya dipertemukan lagi dengan masaah ini hingga saya merasa masalah ini terus mengejar-ngejar saya.

Rabb..kalau memang benar Gina belum bisa menyelesaikan msalah ini, tolong ajari Gina cara untuk menyelesaikannya. Tolong tunjukkan Gina cara untuk menghadapinya, hingga permasalahan ini selesai…

Aamin…

Kita Boleh Lelah, Tapi Kita Tak Boleh Berhenti!

Membaca tulisan yang dibuat oleh salah seorang ikhwah di kampus. Awalnya, saya biasa saja membaca tulisan ini. Tapi, setelah untuk kedua kalinya membaca tulisannya di rumah saya baru tersadar bahwa tulisan ini sangat merefleksikan apa yang terjadi pada saya dan teman-teman yang berjuang bersama saya.Tulisan ini beliau tujukan untuk kami. Saya menangis. Tak bisa berhenti. Bahkan saat saya menulis tulisan ini, air mata saya masih mengalir deras.

dsc00108Ya, kita tak boleh berhenti

Apapun rintangan yang memaksa kita untuk mengerahkan energi lebih banyak untuk bergerak.

Apapun masalah yang membatasi tiap diri kita untuk berjuang

Apapun yang kita rasa masih sangat kurang dalam diri kita masing-masing

Sungguh, kita tak boleh berhenti walau sejenak

Karena apa yang sedang kita perjuangkan adalah sesuatu yang besar

Sesuatu yang bisa membawa kita ke surgaNya

Tempo hari boleh jadi kita merasa lelah

Hingga kelelahan itu menelan diri kita bulat-bulat dengan apa yang dinamakan kelemahan

Hingga kelelahan itu membuat sendi-sendi di tubuh kita seolah terlolosi satu per satu

Hingga kelelahan itu memisahkan diri kita dengan hakikat diri kita yang sesungguhnya

Sungguh, kita tak boleh berhenti

Boleh jadi kita merasa lelah, dan kita sadar betul akan hal itu

Tapi kita harus mengisi diri kita lagi

Dengan ruhiyah yang mantap

Dengan tekad yang bulat

Dan komitmen yang kuat

Kita tak boleh berhenti!!!

Sampai ajal yang akan mempertemukan kita insyaAllah denganNya

Sehingga hari ini, hari kemarin, dan hari pertemuan kita, akan menjadi sesuatu yang  paling kita banggakan di hadapanNya

Yang bisa mempertemukan kita kembali untuk saling melepas rindu di surgaNya kelak

Aamin…

Ikhwatii, terimakasih atas waktu-waktu yang sudah kita lalui bersama.

Sekarang saatnya kita untuk berdiri lagi

Menapaki jalan yang belum kita capai ujungnya

Bersama

Karena diri ini takkan mampu mengarunginya sendirian tanpa kalian

Luv u because of Allah! Uhibbukum fillah…

Terimakasih Yaa Rabb, atas segala yang telah Kau berikan

Atas saudara-saudara yang shaleh yang Kau berikan untuk menemani “Si Lemah ini” berjalan di jalan ini..

Mereka semua adalah bekal…

Kalau mau baca postingan teman saya-nya, klik aja di salah satu nama yang ada di list saya…hehe