Archive for the ‘My Life’ Category

Something called PEDIATRICS

haghag.

menyambung tulisan sebelumnya..

ingin sedikit menulis tentang sesuatu yang sedang sangat saya sukai sekarang.

PEDIATRICS atau kalau di RSHS namanya Ilmu Kesehatan Anak.\

Pasti yang terbayangkan pasien2 di bagian anak tuh bayi2 imut dan balita2 ngegemesin semua.. Padahal, yang namanya spesialis anak tuh menangani pasien sampai usia remaja..<18 tahun.. karena saat di usia itulah seorang manusia masih bisa tumbuh dan berkembang.. That’s why, urusan remaja juga jadi kewenangan spesialis anak…

hmm..

Satu hal yang terus membuat saya terus bersyukur ketika kuliah di FK adalah..saya menyadari penuh bahwa ilmu Allah saaaaangat luas. Pun dalam Ilmu Kesehatan Anak(IKA), masih banyak cabang2 IKA yang harus didalami lagi oleh seorang Sp.A untuk menjadi seorang konsultan.. kalau tidak salah, ada sekitar 13 subspesialis…

perinatologi

gastrohepatologi

kardiologi

tumbuh kembang pediatri sosial

nefrologi

hematologi-onkologi

alergi-imunologi

pencitraan anak

endokrinologi

pediatri gawat darurat

infeksi dan penyakit tropis

neurologi

respirologi

nutrisi dan penyakit metabolik

hmm, semoga masih diberikan usia untuk menapakinya.. 🙂

..to be continued..

My Medical Speciality Aptitude Test

1 rheumatology 40
2 pulmonology 38
3 nephrology 38
4 hematology 38
5 occupational med 38
6 nuclear med 38
7 pediatrics 37

8 plastic surgery 37
9 otolaryngology 36
10 ophthalmology 36
11 anesthesiology 36
12 radiation oncology 36
13 preventive med 35
14 emergency med 35
15 dermatology 35
16 med oncology 35
17 infectious disease 35
18 endocrinology 35
19 neurology 35
20 neurosurgery 35
21 aerospace med 35
22 physical med & rehabilitation 34
23 urology 34
24 general surgery 34
25 radiology 34
26 orthopaedic surgery 34
27 cardiology 34
28 colon & rectal surgery 34
29 gastroenterology 34
30 allergy & immunology 33
31 pathology 33
32 obstetrics/gynecology 33
33 psychiatry 33
34 thoracic surgery 32
35 general internal med 31
36 family practice 30

hmm…

surprised with the result! sangat berharap kalau yg paling atas tuh yg saya warnai merah..

yup..hampir tiga tahun d FK Unpad, baru sekali-kalinya saya merubah cita-cita..hehe

awal masuk FK, sangat ingin menjadi spesialis kandungan.. hmm, ternyata setelah belajar obstetri-ginekologi…hff,luntur seketika cita-cita itu. Entah mengapa..mugkin faktor terbesarnya adalah ketidaksesuaian antara dunia obgin dengan kepribadian saya..

dan sekarang…saya menjatuhkan pilihan hati saya pada pediatrik.. entah mengapa…selama belajar obgin (dan mulai melupakannya), cita-cita menjadi spesialis anak itu mulai muncul dan mengakar dalam tekad saya. YES! I want to be a pediatrician..subspesialis tumbuh kembang anak..(hmmm..). Meski saya ga menutup hati juga sih, buat yang lain..(deeeuu..kesannya lagi ngomongin apaaa gituh)..

Yosh! sekarang tinggal belajar yang bener untuk S.Ked..tahun depan harus hengkang dari Jatinangor..insyaAllah.

menjalani hari2 melelahkan sebagai ko-as(udah “ko”, asisten lagi..) jadi terbayangkan.. visite, jaga malam, case report… selama 1,5 tahun setelahnya..

Abis koas?? magang pastinya, di puskesmas atau RS jejaring RSHS..semoga saat itu semua yg dipelajari sudah terintegrasi..

and then…

yippie! dapet gelar dr., dibeakang nama…waah, pasti bahagia banget rasanya saat itu..

Tapi setelah itu semua, perjuangan belum terhenti..Tapi semua baru bermula. Ya Rabb, kuatkanlah..

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

…Ngobrak-ngabrik email2 lama..menemukan message dari seorang teman..
Bagus pisan.. Semoga bisa mengingatkan kita semua.. 🙂
…Mom, I Love u..and I really Miss you..favorite-mommy-moments-bridgetz81

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa
kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang
mendalam, tetapi kisah
ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini,
makna sesungguhnya
dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan
terbebas dari
penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong
mekarnya sekuntum
bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir
sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan
untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering
memberikan porsi nasinya
untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu
berkata : “Makanlah
nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG
PERTAMA

Continue reading

Hari ini..

dsc001501Lagi-lagi diingatkan untuk banyak bersyukur..
Hari ini melakukan perjalanan..
Ga terlalu jauh, tapi ga bisa dibilang dekat juga sih..
Jalan..
Jalan..
Jalan..
Lama-lama mulai jenuh
Mulai menyalahkan keadaan
“duh, salah dreskod nih, kenapa harus pake sepatu inih??? Kan jadi blablabla..”
“sebenernya ada jalan yang lebih cepet ga sih?”
“Aduh, kaki saya mulai pegel, tapi limit waktu makin mengejar..”
“Matahari makin naik nih, saya harusnya tadi bawa topi..”
(tapi ini semua Cuma diucap dalam hati…)
Dan seterusnya-dan seterusnya…
Makin lama berjalan..
Mulai bertemu pemandangan yang subhanallah indah (apa sebenernya udah ada dari tadi ya?? Apa karena saya sibuk menyalahkan keadaan sampai hal seindah ini ga terasa??)
Sawah-ladang terhampar luas di depan mata saya..
Pegunungan berdiri tegar di ruwetnya Jatinangor..
Lama-lama perasaan-perasaan tadi hilang satu per satu
Berganti ribuan tasbih yang tak terbendung
Maha Suci Allah yang telah menciptakan semua yang ada di langit dan di bumi dengan segaa kesempurnaanNya..

Merasa sangat malu
Pada Allah
Pada diri sendiri
Pada teman-teman yang saat itu berjalan bersama saya (andaikata mereka dengar isi hati saya..)
Astaghfirullah..
Menyadari lagi kalau ternyata yang harus disyukuri lebih banyak daripada yang harus disabari..
Alhamdulillah masih diingatkan…

Malam Ahad yang Menyenangkan

Sabtu ini, orang tua saya datang ke Bandung. Biasa, tiap bulannya kedua orangtua saya punya kewajiban menengok anak-anaknya yang bersekolah di Bandung (ngaku-ngaku…padahal saya di Jatinangor, hehe), jauh dengan mereka yang tinggal di Bekasi.

Biasanya, kami akan menghabiskan malam akhir pekan di rumah atau berjalan-jalan keliling kota Bandung. Malam ini, saya sekeluarga (tanpa adik yg bungsu, karena dia lebih memilih main PS di rumah..huhu, saya benci PS setengah mati!!) pergi ke Pameran Buku Bandung yang diadakan di Braga. I love books so much!!! Berburulah saya di sana..mumpung bareng orang tua.. jadi semua bukunya dibeliin,hehe… Dapat tiga buah buku yang memang saya cari. Fiqh Sunnah (buat pegangan kajian tatsqif) dan Quantum Dakwah dan Tarbiyah.. dan ditambah buku Fiqh Kedokteran (kalau yang ini inisiatif ibu saya… saya sih ga minta,,meskipun ga nolak juga sihh..hehe ;P)

Selesai berburu…perut terasa amat sangat kukuruyuk. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam waktu itu. Akhirnya, kami meluncur ke arah Dago, berniat membeli bebek goreng yang sangat terkenal enaknya di Jl. Hasanudin, di samping RS Boromeus. Meskipun makanan pinggir jalan, tapi sekali coba bener-bener pengen makan lagi (padahal sedikit terpengaruh Om Bondan di acara mak nyuss-nya..hehe). Sampai di sana,ramai sangat. Saya berjalan ke arah penjualnya. “Mas, bebeknya masih ada ga??” Tanya saya dengan muka lapar. “Waduh teh, udah habis tuh..tinggal pecel lele. Maaf yaa.” Hhhhaaa..ini ketiga kalinya rencana saya dan keluarga makan bebek di tempat itu batal. “Nanti lagi kita tunggu sampe warungnya buka aja kali ya,” kata ibu saya..haha.. garingnya sama kaya anaknya..

Perut saya masih meringkik (kaya kuda aja..). Lappeeerrr..

Akhirnya ayah saya berinisiatif,”kita makan surabi aja yuk di Ledeng..” Saya ga komen. Sebenernya pengen makan yang ada nasinya sih..bukan cemilan kaya gitu..T_T

Meluncurlah mobil ke arah Jl. Setiabudhi.. sampai disana, tentu saja pesan surabi. Rasa coklat keju. Ditambah segelas es jeruk (duh, ga mecing banget,,masa minum es jeruk di udara malam Bandung..). Bronkokonstriksilah saluran nafas saya,, batuk-batuk deh… duh, ngerti kesehatan ga sih???!

Malam itu, saya mengamati banyak hal.. Sepanjang perjalanan saya dari rumah sampai pulang lagi ke rumah.

Di Book Fair

Hmm, di book fair saya memperhatikan banyak sekali orang. Sebagian besar, hampir 70% atau lebih pengunjung bookfair adalah muslim. Kok saya bisa dengan sotoy-nya bilang begitu??? Ya iyalah, karena mereka secara fisik men379097677_1a65c730d8_ounjukkan identitas keIslaman mereka (yang ibu-ibu-teteh-teteh pada pake jilbab), insya Allah bapak-bapak-om-om adek-adek-ABG-ABG yang satu rombongan dengan mereka juga muslim. Selain itu, meskipun judulnya Pameran Buku Bandung alias Bandung Book Fair (tanpa embel-embel “Islamic” di depannya), jelas terlihat bahwa stand buku yang mengisi hampir 60% BBF adalah stand buku Islam. Sisanya, stand buku pelajaran, sastra, atau ilmu-ilmu populer. Ini bagi saya membuktikan, bahwa Islam, dengan segala ketinggian dan kemuliaannya, sangat dekat dengan yang namanya Ilmu. Ilmu adalah keniscayaan dalam Islam. Tanpa ilmu, apalah artinya amal, dan sebaliknya. Subhanallah… betapa seorang muslim adalah termasuk deretan orang-orang yang berilmu… Lambat laun kejayaan Islam insyaAllah akan muncul seiring dengan munculnya generasi-generasi Muslim yang cerdas dan intelek, bersih-peduli-profesional. Allahu Akbar!!!

@Perjalanan menuju Jl. Hasanudin

Karena saya satu-satunya orang yang belum makan malam saat itu, kedua orang tua saya berinisiatif untuk pergi makan ke daerah Dago (daripada ngeliat anak kesayangannya mengurus gara-gara kelaperan, hihi). “Teh, makan bebek goreng yang katanya enak tea yuk…” kata ibu saya. Saya langsung mengangguk penuh semangat.

Akhirnya, meluncurlah kami dari Jl. Braga ke arah Dago. Sedikit memutar, berhubung jalan Braga tuh satu arah.

Sampai di Jalan raya Dago (saya lupa nama jalannya..), banyak-banyak istighfar. Masya Allah..ini nih potret remaja kota Bandung yang katanya Bermartabat. Ih, ngeri pisan lah, ngeliat pemandangan jalanan Dago malem Ahad. Jalanan penuh anak-anak muda yang nongkrong ga jelas. Yang cowok2 duduk-duduk sambil ngerokok, bahkan ga mustahil di sepanjang jalan itu dijadikan tempat transaksi obat terlarang.. Belum lagi kalo ngeliat gaya berpakaian mereka. Yang cowok pake jaket kulit plus celana bolong-bolong dengan gaya rambut dinamit (tau kan, yang berdiri-berdiri kaya duri begitu, rambutnya..). Yang cewek sebagian pake rok pendek ampe saya bingung, “ga kedinginan apah mereka, ini Dago gitu loh..??” sambil gelendotan ke temen cowoknya. ihhh… Ngeri.

Saya jadi ngebayangin, gimana ya, adek cowo saya satu-satunya nanti kalo udah beranjak gede. Saya bergidik membayangkan adik saya ikut-ikutan kaya gitu. Na’udzubillahi min dzalik… Ya Allah, amit-amiiiit (Geuleuh mode: ON). Saya jadi bertekad untuk membujuk adik saya untuk masuk pesantren hafizh qur’an yang ada di Subang. Daripada jadi anak begajulan kaya gitu… mending jadi hafizh Qur’an, ya ga??? Jauh lebih kereen gitu loh…

Sampai di depan Boromeus, sedikit legaaa.. terlepas dari pemandangan-pemandangan yang mengusik mata saya itu. Dan sesampainya di tukang bebek goreng, terjadilah insiden “Bebeknya habis, tinggal pecel lele..” Ogaaah!! Kalo pecel lele saya udah sering makan dulu di warungnya Mbak-ѐ di Jatinangor. Kalo bebek, berhubung mahal, jadi saya baru sekali-kalinya jajan bebek.. Hikkksss..padahal udah ngebayangin yang enggak-enggak (maksudnya, melahap bebek dengan sepenuh jiwa..). Saya nampaknya emang kurang berjodoh dengan tuh bebek…

Dari Jl. Hassanudin masuk ke arah Jl. Ganesha (alias jalanan depan ITB yang kalo siang <atau sore??> dihuni oleh gerombolan burung koak yang bisa setiap saat meluncurkan serangannya… Tapi kalo malem kayaknya pada bobo deh, burung koak-nya, hehe.

Dari Jl. Ganesha, belok ke arah kanan. Pokonya mah jalanan yang ke arah Jl. Setiabudhi gitu.. Sebenernya sepanjang jalan terus berdo’a.. semoga ada makanan yang kelihatan lebih menarik daripada SURABI (surabi imut lagi.. Padahal pengennya surabi raksasa..hehe). Lapeeerrr…

surabi keju coklatSesampainya di Surabi Imut… pesen surabi coklat keju (saya nyeseeeelll banget milih rasa ini). Ibu saya terus ngeledekin, gara-gara surabi yang ibu saya pesen rasanya jaaauh lebih enak, isi ONCOM. Emang, rasa original itu lebih enak daripada modifikasi apapun. Apalagi yang ayah saya makan, pake fla stroberi, lebih aneh 100x lipat daripada yang saya makan… Tapi Alhamdulillah, ngenyangin juga kok.. Thanks Allah, for this surabi..^^

Sepanjang menikmati waktu menunggu surabi, saya mengamati orang-orang yang ada di warung ituh. Hampir semuanya pasangan muda-mudi yang menikmati malam akhir pekan berdua atau se-geng-gong orang yang datang bersama teman2 dan pacarnya.. Mmm, saya kok sangat menikmati kesendirian saya ini yah…?(naon sih..). Ya, secara keilmuan saya insya Allah megerti bahwa Allah melarang kita untuk mendekati perbuatan zina (including having a boyfriend and so on..). Dan saya juga merasa lebih menikmati malam Ahad saya bersama ayah-ibu-adik saya… Lebih gimanaaa, gitu. Ga kebayang, kalo saya punya pacar, saya pasti pergi ber-akhir pekan sama pacar saya itu. Gimana terus perasaan ayah-ibu saya ya?? Terbayang, mereka akan sedih dan kecewa sama saya karena me-nomor-duakan mereka (tapi teteup… Allah harus jadi paling nomor satu!!).

Banyak diingatkan untuk bersyukur, di sepanjang perjalanan ber-akhir-pekan bersama keluarga. Bersyukur bahwa Allah memberikan saya kesempatan untuk memahami ilmu Islam sehingga saya tidak berbuat yang aneh-aneh kaya ABG2 di Jl. Dago. Bisa menikmati waktu-waktu lebih banyak bersama ayah-ibu-adik tercinta.. Bersyukur karena masih diberikan kemampuan untuk menelisik mana yang benar dan mana yang tidak..

Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin… Thanks Rabb, for everything You have given to me.. Luv U..

Becoming a doctor isn’t that easy!

good-doctorBanyak orang yang berpikir, menjadi seorang dokter adalah suatu profesi yang menjanjikan. Secara materi, dokter dipandang sebagai sebuah profesi yang menghasilkan banyak uang. Di masyarakat pun, seorang dokter memiliki kecenderungan untuk dipandang sebagai seseorang yang menjadi tokoh di masyarakat, diormati, bahkan disanjung. Profesi dokter pun dinilai memiliki nilai prestise, gengsi, yang tinggi di kalangan masyarakat.

Banyak orang yang berlomba-lomba untuk menjadi bagian dari komunitas yang dinilai “menjanjikan banyak kesenangan” itu. Maka tak heran, banyak yang rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat besar untuk menyekolahkan anak kesayangannya di fakultas kedokteran, baik itu di universitas negeri maupun swasta. Maka tak heran, seorang siswa SMA yang akan menghadapi ujian masuk perguruan tinggi belajar dengan sangat giatnya untuk mencapai cita-citanya itu. Saya pun heran. Tentunya setelah merasakan perjuangan berat yang harus saya jalani tiap harinya untuk meraih impian menjadi dokter itu.

Saya heran. Dan sekarang saya pun bertanya-tanya, mengapa banyak sekali peminat yang mendaftar ke fakultas kedokteran. Bahkan adik saya sekalipun. Mengapa banyak orang yang rela menghabiskan masa mudanya untuk berkutat dengan gunungan buku dan ilmu-ilmu yang harus dipahami. Mengapa??

Saya pun makin heran setelah mendengar banyak cerita dari dosen di kampus tentang kehidupan kuliahnya, kehidupan koasnya, bahkan saat sudah menyandang gelar dokter superspesialis sekalipun, kehidupan mereka tetap sama. Berat, penuh tanggung jawab, dan tuntutan dedikasi yang sangat tinggi, seolah tidak ada kata istirahat untuk seorang dokter. Tiap hari dipenuhi ketegangan. Dihadapkan dengan hidup atau mati. Tidak ada pilihan antara ketepatan atau kecepatan. Semuanya harus sinergi. Antara ketepatan berfikir dan kelembutan hati serta tutur kata. Antara kejujuran dan kerahasiaan pasien. Hhhfff, berat sekali tugas seorang dokter, andai kita tahu.

Pulang ke rumah, bukan tak mungkin seorang dokter membawa penyesalan yang mendalam akibat pasien yang ditanganinya tidak tertolong lagi, atau akibat prognosis pasien yang sedang ditanganinya sangat buruk. Pasien yang tidak bisa menjalani operasi life saving hanya karena keuangan keluarga yang menghimpit. Pilihan antara pura-pura berhati dingin atau berempati. Semuanya pilihan.

Menonton sebuah film tentang dokter muda yang bekerja di emergensi, membuat saya minder dan membuat saya tenggelam dengan keraguan saya tentang kemampuan saya yang saya nilai masih sangat minim bahkan untuk lulus S1 sekalipun. Saya yang masih sering malas ini, saya yang belajar semaunya ini, saya yang sangat mudah hilang konsentrasi ketika belajar ini, saya yang masih sangat emosional ini, apakah saya mampu Ya Allah??? Tenggelam lebih dalam. Namun kemudian menyadari bahwa saya sedang menjalani suatu proses yang sangat berharga dalam perjalanan hidup saya sebagai seorang mahasiswa fakultas kedokteran. Ya, saya calon dokter, dan saya menyadari tanggung jawab, peran, dan fungsi yang saya tanggung sekarang, insya Allah.. Saya menyadari bahwa langkah saya tidak boleh terhenti hanya karena bisiskan emosi saya. Ummat menantikan munculnya dokter-dokter yang berakhlaq. Ummat menantikan munculnya dokter-dokter yang berdedikasi. Ummat menantikan munculnya dokter-dokter yang bekerja dengan ketepatan analisis, kesempurnaan tutur kata serta tingkah laku. Ummat menantikan kita,sahabat seperjuanganku. Ummat menantikan kita. Insya Allah kita akan menjadi dokter yang seperti itu. Aamin…

Di palung hati yang terdalam, bergema suara. Saya harus terus melaju. Seperti langkah jarum detik yang terus menggeser jarum jam meski perlahan, kecuali kalau baterainya habis..hehe. Baterai saya masih cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan energi saya untuk bisa berjalan sampai ke titik impian itu. Saya tahu, saya tidak boleh berhenti, now and forever. Gambarimasu!..

…ditengah keraguan akan kemampuan diri sendiri. Sahabatku, terimakasih telah saling menguatkan…

NOSTALGILA: Si Doel Anak Sekolahan

si-doelPagi-pagi, belajar public health buat ujian besok sambil nyetel tivi. Nemu film Si Doel Anak Sekolahan yang ada waktu zaman saya kecil dulu. Serasa nostalgia.

Ada adegan di mana Atun lagi mau ngisengin Babe-nya yang lagi tidur di dipan. Atun akhirnya ngambil tanjidor kesayangan Babe-nya(kalo mainin tanjidor, tanjidornya dimasukkin ke kepala..). Akhirnya, Atun menjalankan misinya menjaili Sang Babe. Ditiupnya tanjidor kenceng-kenceng, sampe Babe-nya yang lagi tidur pules di atas dipan bagun gara-gara kaget. “Tun, elo ngagetin babe, loe mo bikin babe mati jantungan ya?” Babenya ngomel-ngomel sambil nyumpahin anaknya “kualat loe Tun!”.

Ga lama…Si Atun jatoh keserimpet sampe tuh tanjidor masuk ke pinggangnya dan GA BISA DILEPAS!! Kejepit gituh.. Haha..ketawa-ketawa terus dari tadi nih..(padahal ngakunya lagi belajar…).Akhirnya Si Atun dibawa naek Oplet ke TUKANG LAS.. dan gara-gara tanjidor yang nyangkut di bandannya, dia jadi ga bisa masuk lewat pintu dan alhasil Si Atun berdiri di pintu opelet sambil terus nangis.

Sampai di tukang las… Atun nangis-nangis ga mau dilas.Terus Sang Babe pun ga rela kalo tanjidor kesayangannya dipotong. Akhirnya, Si Atun dibawa ke PUSKESMAS dan jadi bahan tertawaan orang-orang yang ada di Puskesmas… KArena puskesmas ga sanggup buat nanganin kasus Atun, akhirnya dia dibawa ke Rumah Sakit..

Atun masih nangis-nangis di rumah sakit. TAkut disuntik, katanya… Akhirnya Atun kabur gara-gara dia harus dibius, yang artinya harus disuntik.. Kejar-kejaran deh Si Atun vs Si Doel dan Mandra. Semua orang kelimpungan ngurusin Atun.

…lagi iklan…

Terakhir…Atun dibawa ke tukang urut. Terus tukang urutnya nyuruh Mandra beli minyak kelapa sebotol penuh (waktu itu harganya Cuma 500 perak…murahnyaaa..). Akhirnya, Si Atun pun bisa lepas dari kungkungan tanjidor, dan tanjidor pun selamat karena ga usah dipotong…heuuu…